Rabu, 23 Mei 2012

Muadzin

Oleh: Denny Mizhar

Suara dedaunan bambu bergemerisik diterpa angin.  Batang-batang bambu saling berbenturan. Suasana hening dan temaram. Rumah yang berdinding gedek. Seorang lelaki paruh baya menerawang memandang langit-langit rumahnya. Ia terbangun sehabis bermimpi buruk. Dalam mimpinya ia didatangi seorang yang bernama Bilal Bin Rabah, nama yang tak asing baginya. Bilal membawa sebuah kapak yang akan dihujamkan padanya jika ia tak kembali mendengungkan suara adzan. Ia berlari sekencang-kencangnya dan akhirnya terbangun.

Ia mengingat-ingat nama itu, ingatannya melintas batas waktu masa kecilnya saat masih sekolah madrasa, sekolah setingkat dengan sekolah dasar. Wajah guru agamanya pertama kali muncul dalam ingatannya. Syakur, guru agama yang punya kumis tebal dengan tampang menakutkan. Tetapi sebenarnya hatinya penyabar. Syakur bercerita tentang sahabat Nabi yang dibebaskan dari perbudakan dan bertugas sebagai muadzin, tugasnya adalah  mengingatkan bila waktunya sholat tiba dengan suara ajakan sholat serta pengagunggan pada Sang Khalik serta Sang Panglima Umat Islam.

Seusai pulang sekolah, ia bilang pada emaknya. Bahwa ia ingin jadi muadzin seperti Bilal. Lalu emaknya mengambil buku peninggalan bapaknya. Bapakya meninggal dunia karena petir menyambar ketika hujan deras ketika itu bapaknya sedang menjadi buruh tani menggarap tanah Pak Markus. Pak Markus adalah tuan tanah di desanya. Maklum masih kelas 1 sekolah Madrasah membaca pun masih belum lancar. Emaknya mengajari dari buku yang ditinggalkan bapaknya yang juga seorang Muadzin di Surau dekat rumahnya. Ia juga ingin menggantikan bapaknya, meski kerja di sawah masih menyempatkan pulang dan pergi ke Surau ketika adzan dzuhur tiba. Tak semua teman bapaknya menyempatkan pulang ketika siang menyapa.

Bahkan pada gurunya pak Syakur, ia utarakan keinginannya. Pak Syakur pun tersenyum, sebab sepeninggal bapaknya yang menggantikan jadi muadzim adalah pak Syakur. Tak banyak orang ingin jadi muadzim, anak pak Syakur sendiri saja tak mau, meski anak guru agama. Tak hanya ibunya yang mengajari tapi guru agamanya pun ikut mengajari melafazdkan kalimat adzan.

“Sahlan, nanti siang kamu coba adzan di Surau” Ujar guru agamanya sebelum meninggalkan pagar sekolah. “Siap, pak” sahutnya dengan semangat. Jalannya ia cepatnya tak sabar memberi kabar pada ibunya. Tas ia lemparkan di kursi dan mencari ibunya yang sedang mencuci pakaian milik keluarga pak Markus. Salah satu pendapatan keluarga sepeninggal bapaknya, emakya menjadi buruh cuci.

“Mak, saya nanti mau adzan Dzuhur. Gantikan pak syakur” sambil teriak. Sesegera emaknya meninggalkan sumur yang terletak di belakang rumahnya untuk menghampirinya. “Apa, kamu sudah siap Le” tanya dengan ragu oleh emaknya. “Sudah mak, tadi pak Syakur sudah menguji saya di sekolah dan saya lulus” ia katakan dengan banga.

“Allahuakbar...  Allahuakbar...” dari pengeras suara yang ada di surau terdengar suara anak kecil. Orang-orang desa heran dan bertanya-tanya. Suara siapa itu? Mana suara adzan pak Syakur? Anak siapa yang lancang dan berani adzan? Beberapa orang akhirnya demi ingin tahu suara siapa yang azdan yang sebenarnya tidak pernah sholat jama’ah di surau datang juga. Tidak biasanya jumlah jama’ah dzuhur terdiri dari tiga shaf, biasanya hanya satu sampai dua shaf baik laki-laki maupun perempuan. Tetapi semua bingung. Siapa yang jadi imam sholat, karena Pak Syakur yang biasanya jadi imam tak datang. Orang-orang mulai risau. Tiba-tiba datang pak Syakur dan langsung menuju tempatnya untuk menjadi imam. Dan Ia pun juga mengumandangkan iqomah. Sesudah sholat usai pak Syakur mengatakan sesuatu pada jama’ah sholat dzuhur. “Bapak, Ibu dan saudara-saudari yang saya hormati. Mari kita ramaikan surau ini, kita bangun biar jadi lebih baik. Fasilitas-fasilitas kita adakan agar semakin nyaman dan ibadah kita semakin bertambah khusuk untuk kita laksanakan di surau ini, itu saja yang ingin saya katakan. Oh, ya satu lagi. Muadzin kita baru, saya hanya akan jadi imam dan ceramah saja yang adzan biar si Tole itu” mengakhiri ceramanya sambil memandang Tole yang duduk di samping mic.

***

Surau kini semakin bagus, orang-orang berlomba-lomba beramal demi pembangunan surau tak juga ketinggalan pak Markus orang terkaya di desa menyumbang paling banyak hingga akhirnya surau ditembok bukan dari kayu dan bambu lagi. Usia Tole pun sudah besar, Ia tak meneruskan sekolah setamat sekolah menegah pertama sebab tak punya biaya. Ia pun mendapat upah atas jasa suara adzannya dan menjadi tugas kebersihan surau.

Desa yang dihuninya tak seperti ia masih kecil yakni desa yang sepi, tetapi  kini sudah ramai sejak dibangun pasar oleh pemerintah kota di lahan yang berdampingan dengan desanya. Awalnya milik Pak Markus yang dijual pada orang kaya dari kota yang hendak membuat lahan pasar yang bekerja sama dengan pemerintah setempat. Orang-orang mulai melupakan bekerja di sawah. Sebab tanah pak Syakur pun tidak banyak lagi. Pak Markus juga membuat lapak-lapak untuk berjualan. Lapak yang didapat dari kompensasi menjual tanahnya. 
Emaknya tetap bekerja sebagi pencuci pakaian keluarga Pak Markus sebab yang bisa dilakukan emaknya cuma mencuci. Tapi hal ini membuat emaknya kaget karena Pak Markus minggu depan akan memberhentikan emaknya. Sebab pak Markus akan beli mesin cuci yang dijual di pasar yang baru saja didirikan. Kini orang-orang pun banyak yang meniru gaya hidup keluarga pak Markus yakni suka berbelanja baju, alat elektronik sebab gaji yang didapat lebih banyak dari pada menjadi buruh tani.

Emaknya terkena serangangan jantung. Emaknya meninggal dunia. Hanya dia sendiri tinggal di rumah warisan bapaknya yang terbuat dari bambu.

***

Ia bangun dari tempat tidurnya. Ingatannya tentang masa lalunya membuatnya sesak. Ia meneteskan air mata, lalu bersistiqfar. Ia keluar rumah, melihat masjid megah tapi tak terdengar suara adzan sejak setahun lalu. Saat ia beberapa kali adzan tapi tak ada orang yang datang untuk menuaikan sholat jama’ah. Anak-anak lebih asyik menyaksikan televisi, orang-orang tua lebih asyik bekerja, anak-anak muda asyik nongkrong di warung pasar. Dan itu terjadi ketika pak Syakur meninggal dunia berjarak seminggu dengan emaknya.

Ia pun frustasi, meninggalkan masjid yang megah dibangun dari sumbangan warga desa. Mereka semua kini berpendapatan lumayan sejak adanya pasar. Mereka berfikiran bahwa mereka telah beramal jariyah dengan menyumbangkan uangnya untuk pembangunan masjid. Amal yang kata mereka tak pernah putus meski meinggal dunia.

Ia berjalan bergegas menuju masjid yang awalnya Surau. Ia menuju tempat soud sistem berada. Tempat yang berdebu dan penuh sarang laba-laba. Ia mulai membersihkan, menata dan menyalakan sound sistemnya. Masih baik, ia mencobanya. Waktu subuh tiba. Adzan terdengar. Orang-orang desa yang berangkat ke pasar terkaget. Sebab sudah lama tidak terdengar adzan. Mereka pun hanya berhenti di depan pagar masjid. Tak ada yang masuk. Ia sholat subuh sendiri. Hingga matahari menampakkan diri. Ia masih di masjid. Dan tampak beberapa orang berseragam serupa petugas listrik datang bersama pak Markus.

“Le, kamu tidak usah capek-capek lagi adzan. Saya sudah berencana membelikan alat yang akan berbunyi adzan dengan otomotis ketika waktunya tiba. Mereka ini petugas yang akan memasang alat tersebut” sambil menunjukkan tempat pesangan alat yang dibelinya sewaktu pergi ke kota.

Ia duduk lunglai, serasa kapak Bilal membela dadanya.

Malang, 14 Januari 2012.     

(Pernah Dimuat Majalah MATAN PWM Jawa Timur)


Tidak ada komentar: