Oleh: Denny Mizhar
Suara dedaunan bambu
bergemerisik diterpa angin. Batang-batang bambu saling berbenturan.
Suasana hening dan temaram. Rumah yang berdinding gedek. Seorang lelaki paruh
baya menerawang memandang langit-langit rumahnya. Ia terbangun sehabis bermimpi
buruk. Dalam mimpinya ia didatangi seorang yang bernama Bilal Bin Rabah, nama
yang tak asing baginya. Bilal membawa sebuah kapak yang akan dihujamkan padanya
jika ia tak kembali mendengungkan suara adzan. Ia berlari sekencang-kencangnya
dan akhirnya terbangun.
Ia mengingat-ingat nama
itu, ingatannya melintas batas waktu masa kecilnya saat masih sekolah madrasa,
sekolah setingkat dengan sekolah dasar. Wajah guru agamanya pertama kali muncul
dalam ingatannya. Syakur, guru agama yang punya kumis tebal dengan tampang
menakutkan. Tetapi sebenarnya hatinya penyabar. Syakur bercerita tentang
sahabat Nabi yang dibebaskan dari perbudakan dan bertugas sebagai muadzin,
tugasnya adalah mengingatkan bila
waktunya sholat tiba dengan suara ajakan sholat serta pengagunggan pada Sang
Khalik serta Sang Panglima Umat Islam.
Seusai pulang sekolah,
ia bilang pada emaknya. Bahwa ia ingin jadi muadzin seperti Bilal. Lalu emaknya
mengambil buku peninggalan bapaknya. Bapakya meninggal dunia karena petir
menyambar ketika hujan deras ketika itu bapaknya sedang menjadi buruh tani
menggarap tanah Pak Markus. Pak Markus adalah tuan tanah di desanya. Maklum
masih kelas 1 sekolah Madrasah membaca pun masih belum lancar. Emaknya
mengajari dari buku yang ditinggalkan bapaknya yang juga seorang Muadzin di Surau
dekat rumahnya. Ia juga ingin menggantikan bapaknya, meski kerja di sawah masih
menyempatkan pulang dan pergi ke Surau ketika adzan dzuhur tiba. Tak semua
teman bapaknya menyempatkan pulang ketika siang menyapa.
Bahkan pada gurunya pak
Syakur, ia utarakan keinginannya. Pak Syakur pun tersenyum, sebab sepeninggal bapaknya
yang menggantikan jadi muadzim adalah pak Syakur. Tak banyak orang ingin jadi
muadzim, anak pak Syakur sendiri saja tak mau, meski anak guru agama. Tak hanya
ibunya yang mengajari tapi guru agamanya pun ikut mengajari melafazdkan kalimat
adzan.
“Sahlan, nanti siang
kamu coba adzan di Surau” Ujar guru agamanya sebelum meninggalkan pagar
sekolah. “Siap, pak” sahutnya dengan semangat. Jalannya ia cepatnya tak sabar
memberi kabar pada ibunya. Tas ia lemparkan di kursi dan mencari ibunya yang
sedang mencuci pakaian milik keluarga pak Markus. Salah satu pendapatan keluarga
sepeninggal bapaknya, emakya menjadi buruh cuci.
“Mak, saya nanti mau
adzan Dzuhur. Gantikan pak syakur” sambil teriak. Sesegera emaknya meninggalkan
sumur yang terletak di belakang rumahnya untuk menghampirinya. “Apa, kamu sudah
siap Le” tanya dengan ragu oleh emaknya. “Sudah mak, tadi pak Syakur sudah
menguji saya di sekolah dan saya lulus” ia katakan dengan banga.
“Allahuakbar... Allahuakbar...” dari pengeras suara yang ada
di surau terdengar suara anak kecil. Orang-orang desa heran dan bertanya-tanya.
Suara siapa itu? Mana suara adzan pak Syakur? Anak siapa yang lancang dan
berani adzan? Beberapa orang akhirnya demi ingin tahu suara siapa yang azdan
yang sebenarnya tidak pernah sholat jama’ah di surau datang juga. Tidak
biasanya jumlah jama’ah dzuhur terdiri dari tiga shaf, biasanya hanya satu
sampai dua shaf baik laki-laki maupun perempuan. Tetapi semua bingung. Siapa
yang jadi imam sholat, karena Pak Syakur yang biasanya jadi imam tak datang.
Orang-orang mulai risau. Tiba-tiba datang pak Syakur dan langsung menuju
tempatnya untuk menjadi imam. Dan Ia pun juga mengumandangkan iqomah. Sesudah
sholat usai pak Syakur mengatakan sesuatu pada jama’ah sholat dzuhur. “Bapak,
Ibu dan saudara-saudari yang saya hormati. Mari kita ramaikan surau ini, kita
bangun biar jadi lebih baik. Fasilitas-fasilitas kita adakan agar semakin
nyaman dan ibadah kita semakin bertambah khusuk untuk kita laksanakan di surau
ini, itu saja yang ingin saya katakan. Oh, ya satu lagi. Muadzin kita baru,
saya hanya akan jadi imam dan ceramah saja yang adzan biar si Tole itu”
mengakhiri ceramanya sambil memandang Tole yang duduk di samping mic.
***
Surau kini semakin
bagus, orang-orang berlomba-lomba beramal demi pembangunan surau tak juga ketinggalan
pak Markus orang terkaya di desa menyumbang paling banyak hingga akhirnya surau
ditembok bukan dari kayu dan bambu lagi. Usia Tole pun sudah besar, Ia tak
meneruskan sekolah setamat sekolah menegah pertama sebab tak punya biaya. Ia
pun mendapat upah atas jasa suara adzannya dan menjadi tugas kebersihan surau.
Desa yang dihuninya tak
seperti ia masih kecil yakni desa yang sepi, tetapi kini sudah ramai sejak dibangun pasar oleh
pemerintah kota di lahan yang berdampingan dengan desanya. Awalnya milik Pak Markus
yang dijual pada orang kaya dari kota yang hendak membuat lahan pasar yang
bekerja sama dengan pemerintah setempat. Orang-orang mulai melupakan bekerja di
sawah. Sebab tanah pak Syakur pun tidak banyak lagi. Pak Markus juga membuat
lapak-lapak untuk berjualan. Lapak yang didapat dari kompensasi menjual
tanahnya.
Emaknya tetap bekerja
sebagi pencuci pakaian keluarga Pak Markus sebab yang bisa dilakukan emaknya
cuma mencuci. Tapi hal ini membuat emaknya kaget karena Pak Markus minggu depan
akan memberhentikan emaknya. Sebab pak Markus akan beli mesin cuci yang dijual
di pasar yang baru saja didirikan. Kini orang-orang pun banyak yang meniru gaya
hidup keluarga pak Markus yakni suka berbelanja baju, alat elektronik sebab
gaji yang didapat lebih banyak dari pada menjadi buruh tani.
Emaknya terkena
serangangan jantung. Emaknya meninggal dunia. Hanya dia sendiri tinggal di
rumah warisan bapaknya yang terbuat dari bambu.
***
Ia bangun dari tempat
tidurnya. Ingatannya tentang masa lalunya membuatnya sesak. Ia meneteskan air
mata, lalu bersistiqfar. Ia keluar rumah, melihat masjid megah tapi tak
terdengar suara adzan sejak setahun lalu. Saat ia beberapa kali adzan tapi tak
ada orang yang datang untuk menuaikan sholat jama’ah. Anak-anak lebih asyik
menyaksikan televisi, orang-orang tua lebih asyik bekerja, anak-anak muda asyik
nongkrong di warung pasar. Dan itu terjadi ketika pak Syakur meninggal dunia
berjarak seminggu dengan emaknya.
Ia pun frustasi,
meninggalkan masjid yang megah dibangun dari sumbangan warga desa. Mereka semua
kini berpendapatan lumayan sejak adanya pasar. Mereka berfikiran bahwa mereka
telah beramal jariyah dengan menyumbangkan uangnya untuk pembangunan masjid.
Amal yang kata mereka tak pernah putus meski meinggal dunia.
Ia berjalan bergegas menuju
masjid yang awalnya Surau. Ia menuju tempat soud sistem berada. Tempat yang
berdebu dan penuh sarang laba-laba. Ia mulai membersihkan, menata dan
menyalakan sound sistemnya. Masih baik, ia mencobanya. Waktu subuh tiba. Adzan
terdengar. Orang-orang desa yang berangkat ke pasar terkaget. Sebab sudah lama
tidak terdengar adzan. Mereka pun hanya berhenti di depan pagar masjid. Tak ada
yang masuk. Ia sholat subuh sendiri. Hingga matahari menampakkan diri. Ia masih
di masjid. Dan tampak beberapa orang berseragam serupa petugas listrik datang
bersama pak Markus.
“Le, kamu tidak usah
capek-capek lagi adzan. Saya sudah berencana membelikan alat yang akan berbunyi
adzan dengan otomotis ketika waktunya tiba. Mereka ini petugas yang akan
memasang alat tersebut” sambil menunjukkan tempat pesangan alat yang dibelinya
sewaktu pergi ke kota.
Ia duduk lunglai,
serasa kapak Bilal membela dadanya.
Malang, 14 Januari
2012.
(Pernah Dimuat Majalah MATAN PWM Jawa Timur)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar