Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 12 Januari 2012

Sajak-Sajak Denny Mizhar

Memapah Kota Yang Dibangun Dari Harum Tubuh
:Untuk  Gadis Banyuwangi

Adinda, masihkah kau mengelilingi
danau rindu tempat Surati bersemayam.
Harum Surati menebar wewangian
pada malam ganjil aku mengenang wajahmu.
Mata yang ditumbuhi bunga-bunga kenanga
pada kota yang di bangun dari tubuhnya.
Maut yang lahir dari rasa sesal atas laku diri
dan cinta menjadi duka.

Adinda, kenapa kau tak lagi bisa
menggambar wajah dengan warna
wangi atas kematian Surati. Apakah kau
diam-diam membalaskan dendamnya.
Menenggelamkan Raden Banterang
Di danau tempatmu bersemayam.

:Saat kau mengenal laki-laki, kau singkap tabirnya
dengan kealpaan atas muasalnya.

Mengulang kisah mengulang rindu.
Membangun kembali kota harum dari kematian.
Berulang dari haru memburu masa lalu yang terlupa.
Harum menghilang dengan bangkai terbaca.

Dupa-dupa tak lagi menyala.
Rintik hujan mengakhirinya.

Air membasuh tubuh bersetubuh
dengan kembang kamboja.
Wangi kembali wangi kecipraknya
ketika rambutmu tak mampu terdekati.
Persinggahan pada kota yang dibangun
dari air yang harum pada kisahnya.

:Adinda, kemana memapah wangi kotamu
Jika matamu menutup rona-rona rindu.
Malang, 2011

Malang-Surabaya


Malang aku tinggalkan
saat subuh berkumandang
kabut pagi membelaiku
mengantarkan pada kepergian
dingin memelukku temani perjalanan

Laju kendaraan berebutan di depan.
aku mencari sela menghirup asap-asap knalpot
dadaku sesak berdesakan dengan waktu

Aku hirup aroma lumpur di tengah perjalanan
porong-lapindo. Ah, sampai kapan akan usai
derita di tanah yang bertanggul. kini jadi tontonan

Buruh-buruh pabrik berjejeran di jalan
lonceng hidup segera dibunyikan
cerobong-cerobong menghembuskan nafas

Surabaya, aku disambutnya dengan kemacetan
sebentar lagi, panas mengajak dansa denganku

Surabaya aku datang. mencari semangat pahlawan

Surabaya, 2011


Perjalanan


I
di lintasan waktuMu terlarut dalam tanya takdirMu.
memecahkan tubuh yang tumbuh dalam kota tua.
kerapuhan lahir dari masa lalu yang ditetaskan ingatan
pada jalan hitam membaca tanda-tanda.

keberlarian menjadi ingin.
sembunyi dari kenyataan
bahwa hidup adalah
keyakinan.

Malang, Januari 2011

II
di kota tua ini tereja garis nasib yang tak menemui takdirNya
sepi masih saja bertandang dengan gempita di setiap hirupan nafas.
jalan mana harus terlewati mananggalkan tubuh yang rapuh.
hiruk pikuk klakson kendaraan yang berebut celah menuju garis finis.
lampu berkerlipan ketika malam mengetuk pintu waktu
dan orang-orang sibuk mencari celana dalam di mall-mall 
yang dibangun dengan menumbangkan pohon-pohon
dan mengusir kunang-kunang. aku tersudut di pojok jalan
yang bersimpang. mengaduh gaduh pada tuan kota tua
dan tak ada jawabnya. sangsi aku pada diriku. 
pada Tuhan yang katanya bersemayam didekat urat leherku.
aku masih manyembut namaMu. walau kesangsian berkelindan
menyusuri pertanyaan-pertanyaan keraguanku.

Malang, Januari 2011

III
aku telah memilih jalan. tapi aku takut berjalan. jalan yang menikung tajam. tajamnya seperti mata pisau yang baru saja terasah. bila aku tak berjalan. aku mati dalam angka. bila aku berjalan kakiku akan luka, karena tikungan kian membuatku gelisah. apakah aku harus diam dalam angka yang tak berubah atau berjalan melewati luka. dilema dalam ketakutan. apakah Tuhan bersama bersama orang takut. seketika itu, cahaya berpendar-pendar menuntunku melewati luka. kakiku berdarah. aku menahan dengan keyakinan. aku akan merubah angka. angka akan terus bertambah. bertambah dalam gerak. terus bergerak. kakiku patah dalam angka.

Malang, Februari 2011

IV
aku kalah dengan gerak fikir yang berjalan menjumpaiku
hingga daya tahan akan keyakinan tergedor roboh seketika

masihkah ada hati yang bersijingkat memeluknya, aku harap.
hanya ia yang tertinggal ketika kerapuhan menjumpai, 
ketika Tuhan yang aku bunuh tak dapat mati.

keabadiannya ada selalu

aku hanyalah rangka tak berdaya
dan daya itu hanya Tuhan yang punya

Malang, Februari 2011

Senin, 02 Januari 2012

Kembang Api

aku kehilangan puisi ketika kembang api berkali-kali meletus di udara menggambar kepalaku berwarna-warni. aku melihat tuhan sedang berpesta dengan nyala kembang api. nanang suryadi diam-diam mencuri puisi dari pesta kembang api. dari belakang yusri dan azis memecahkan teka-teki puisi yang tercecer dari percik kembang api. aku hendak lari. tuhan mendekapku dan berbisik padaku "kau gali kuburmu sendiri dengan puisi di kota ini, jika kau tak temui puisi kota ini"


Malang, Januari 2010

Jumat, 16 September 2011

Puisi-Puisi Denny Mizhar

(dimuat Suara Pembaharuan. Minggu, 7 Agustus 2011)

Narasi-Narasi Kesepian

I
aku pacu kuda putih menyambut bulan yang hendak mengakhiri diri. ketika angka pada ekornya berubah wujudnya. di mana perawan aku kenang. dalam malam memampah waktu. siluet harum kenanga menyapa, memetiknya. menyelipkan di sela telinga. wajahmu masih wangi terasa bersetubuh dalam sembayangku yang sunyi.

II
satu persatu pergi. aku sendiri. tapi ini tak aku ingin. sebab kesepian bagiku mengerikan. di mana tuhan? dalam diriku pun tak ada: ada dalam tubuh perawan.

III
aku pernah membuat rumah dalam kepalamu. tetapi kerapuhan mengunjungi hingga roboh berkali-kali. aku pergi melambaikan senyum perpisahan--jarak fikir antara kita begitu absurd-- aku tak menyesali: kepergian.

IV
satu persatu mereka pergi membawa mimpi dari hari yang dilewatinya. sedang aku masih di sini, sendiri. ah, tap apa. bukannya kesendirian juga punya ruang resonansi menembus langit. tetapi kadang juga mereka memaksaku berkemas menemui keramian yang tak kumaui. tidak, aku masih ingin sepi berkasih dengan Tuhan Yang Maha Suci.

V
jikalau langit sudah kau rebahi. bercintalah dengan perawan surga. segera kembali pada tanah yang kau pijaki. gembalakan anak-anak menuju rumahNya. aku masih menyaksikan tangis luka atas kemlaratan yang dihimpun dari kekuasaan tiran.

Malang, 2010


Ritus Kerinduan

I
sesayap matamu terbang pada keheningan malam
mengabarkan kerinduan pada sukmaku yang parau
dihimpit pertanyaan akan purnama sang perawan
memadu kasih dengan kesyaduhan suci

aku menelanjangi tubuhku, membelahnya hingga mata batinku
mengurai dosa-dosa adam dan hawa atas keterjatuhannya di bumi fana
memanggil Yusuf, belajar darinya arti kesetiaan atas godaan
berkeluh kesah pada Nuh, menumpakkan kerinduan yang membadai
persiapkan kapal guna arungi gelisah

adakah yang perawan selain Maryam
padanya aku mengaduh tentang persetubuhan

II
Tuhan, dalam diriku ada catatan dusta
hingga kerinduan tak dapat aku eja sempurna

ritus-ritus aku lafadzkan
bebunga mawar dan melati aku rangkai
merajut sepi menjadi mantra pemuja-Mu

kemana Halaj, Rumi, Rabi'ah?
aku ingin mabuk dengan mereka
aku siapkan anggur yang kucampur
dengan darahku

hingga hatiku bercinta dengan-Nya

Malang, 2011


Narasi-Narasi Hujan

I
pada pintu kesadaran
hujan rintik membimbingku
basah aku menuju pintu waktu

II
rerintiknya,
aku berteduh bersamamu
pada kepulangan ketika senja
menyapa dengan gelisah

III
aku basah, kau basah, kita sama-sama basah
dengan kebasahan aku mengecup bibirmu
ada sajak jelita di matamu

IV
pada sebuah warung saat hujan menderas
air matamu jatuh di cangkir kopiku
kuteguk berlahan dengan kisah lukamu

V
hujan, aku dan kamu
menjadi satu dengan sisa tanya
yang berkejaran dalam ruang sepiku

Malang, 2011


Senin, 11 Juli 2011

Aku tersesat di Rambutmu, dalam Kitab Suciku

adinda, kemana kau pergi.
rambutmu berjatuhan di jembatan rinduku.
baru saja aku dengar lantunan ayat-ayat suci
dari jejak kakimu. seketika itu, kau menghilang.
aku lihat kelelawar berterbangan di kamarku.
kelelawarkah yang membawamu pergi dari
rumahku. senja datang, aku kesepian.
mataku terpejam, hari menjadi malam.
kamarku kosong, langit malam menanti.
ada bintang sendiri, ketika rembulan tak datang.
angin tak berkutik sembunyi di bibir hidungku.
aku tarik nafas panjang agar kau datang kembali.
tetapi rembulan yang datang. padahal, bukan
rembulan yang kuharapkan. sebab aku bukanlah bintang.
aku melihat bidadari menari bersama datangnya rembulan.
bintang menyambutnya dengan menyodorkan tangannya
pada bidadari. aku masih tetap sendiri, dengan nafas yang
terjenggal menantimu. aku melihat wajahmu ada di punggung
bidadari sambil menggeraikan rambutmu.
kenapa kau tak turun adinda, teriakku.
gerak tubuh bidadari sedang bercinta dengan rembulan
dan bintang, ada kau di sana. rupanya kau ikut bercinta
dengan mereka. aku terdiam dengan kecemburuan.
memukul kepala berkali-kali hingga tumpah menjadi
sebuah peta yang gelap tak bisa terbaca. walau lampu
penerang memberikan cahaya dalam kamarku.
adinda, kalau saja kau katakan lebih awal tentang percintaan.
tentunya aku akan mengadu pada rerumputan yang bergoyang
di savana, saat kita sedang bercinta dulu.
kau menulis kata-kata puisi yang membuatku sakit hati.
kau kirim dengan menyambung rambutmu menjadi temali.
adinda, harum kamarku saat kau disini. kini tak ada lagi.
aku membuka kitab suci. ada rambutmu. apakah ini
jembatan yang menghubungkan surga buatku.
apakah kau menungguku di surga bersama bidadari.
ah, aku menyusuri huruf hijaiyah mencari dirimu
di sela harokat-harokat yang menjadi bunyian indah
di dadaku. aku bertemu maryam. ia menghiburku
dengan kesetiaannya pada tuhan. hingga tak mau ada
lelaki bercinta dengannya, kecuali tuhan. ah, apakah tuhan
laki-laki tanyaku. dia akan menjelma pada siapa saja yang sepi
hatinya merindukan peluknya. maka datanglah tuhan
mencari hati yang tergetar. aku pun tergetar, katanya.
maryam mengusirku sebab ia akan bercinta dengan tuhan.
aku pun melihat tuhan dalam diri maryam.
aku masih saja memotong-motong huruf
yang ada dalam kitab suci. ada aisyah sembunyi
sedang bernyanyi bersama muhammad, takut
tuhan akan tahu. bahwa ia sedang selingkuh.
desah nafas aisyah seperti nafasku yang tersenggal.
aisyah mendekat padaku, memberikan nafas
sejenggal padaku meninggalkan muhammad.
lalu pergi mengantarkanku pada fatimah. diam-
diam ia membawa selimut buatku yang kedinginan
tanpa pelukmu, adinda.
adinda, dimana kamu? tubuhku lelah mencarimu.
datang khotijah padaku, membelikan aku sepeda
untuk mencarimu. aku mengayuh terus hingga
perutku lapar. aku temui masitah. ia menjadi menu
makan siangku. dalam tangis yang matang tubuhnya
ia memberikan aku semangkuk rindu, mengantarkanku
pada rabi’ah. ah, aku tak mau. aku masih belum mampu,
untuk tak bersama dengamu, adinda. rabi’ah mengusirku
melemparkan aku pada tengah-tengah rambutmu dan
memberikan aku api dan air. aku tak bisa. masih belum bisa,
aku tak bisa lihat wajahmu, aku tersesat di rambutmu, adinda.
bidadari yang mengajakmu bercinta dengan rembulan
dan bintang menepuk dadaku. aku diam. ada kamu di kitab
suciku. dan rambutmu patah. aku tersesat olehmu.
Malang, 20 November 2010

Minggu, 10 Juli 2011

Parade Puisi

Ular yang Keluar dari Jubah Zirah

kun. katakanlah, segalanya jadi ada.
melilit turun dari sorga. membawa kitab
suci yang tercuri dari jubah zirah. 
kulitnya mengelupas, permuda wajahnya.

kun. katanlah, bisa racuni kata dengan protes
mantra . sebab, tak ada sungai mengalir dan
bidadari cantik dengan tubuh telanjang
sedang memanjanya.

adam dan eva kembali ke sorga.
berkendara ular yang keluar dari jubah zirah.
meninggalkan kitab suci keabadian cinta.

Malang, 2010


Khuldi di Ranum Bibirmu

aku terbius
oleh tubuhmu. 
mengecup mesra

pada bibirmu. 
ingatanku membaca
adam dan eva. 

rasa pahit
ketika buah khuldi
ada di lidah. 

aku dan kamu
naik ke sorga. 
sebab aku
bukan adam
dan kau bukan eva. 

aku menjadi ular
masuk lewat pintun sorga
dan kau yang membuka.

Malang,2010

Tabiat Ular

memasuki mimpi perjaka
berkejaran di awan jingga.

Iqlima perawan sogra menyapa
membangun singgasana pengantin purba. 
mencipta lubang ular-ular untuk bertelur luka
menetaskan kebencian Qobil serta Habil. 

persembahan sesaji tak sempurna
sebab bisa memeluk tak sampai purna.

Malang, 2010

Lubang Ular

jalan menuju sorga
dengan desah dan air mata

Malang, 2010

Parade Puisi

Ketika Kereta Membawa Rembulan

batu-batu diterpa bayangan  
dari tubuhku pandang purnama  
berkilauan membias wajah 
besi tua berciuman dengan terang

cahaya bulan 
 
sebentar lagi kereta melaju  
lewat jalur lurus sedikit menikung 
 
balok-balok kayu penyanggah  
hampir rapuh masih utuh 
dari pohon jati masa lalu 
sebagian sudah berubah

dari beton masa kini 
 
stasiun yang menghentikan kereta  
sepi dari hiruk pikuk petugas penjual karcis─  
loket tutup  
 
(rembulan masih terang dengan bidadari  
dan kucingnya berayunan menunggu  
kereta langit menuju bumi) 
 
deru kereta melintas  
dari ujung arah berlawanan 
 
melinang air dari mata kali  
sumber mengabdi  
pada dongeng kala kenangan

menyapa 
 
kereta melaju  
aku terdiam kaku 
 
rembulan terseret rantai besi  
bidadari dan kucing menggelinding  
ke arah barat dan tidak kembali.
 
menunggu mereka─ 
aku masih bermain bunyi  
dari batu yang aku lempar pada batang rel kereta 
mengharap kembali bidadari dan kucingnya  
bermain ayunan ketika purnama  
 
akan kupandang─ 
rinduku mengeja 
pada dongeng moyangku. 

Malang, 2010 
 
 
Membakar Waktu

ada muasal kata  
lewat dedaunan layu  
diterpah kehangantan  
saling gesek bergesek  
memainkan nyanyian  
kekeringan  
dalam tanya  
pepohonan  
sedang meranggas kesepian. 
 
waktu melahan berkunjung  
pada arah matahari sunyi  
beri kabar betah untuk tinggal  
di bingkai:  
tanah retak  
rumput kering  
daun jatuh  
buah jagung berkembang.  
 
adakah yang paling sepi  
saat waktu terbakar  
menyangsikan musim hujan 
terburu-buru pergi 
 
pohon jati berdiri 
menahan tubuh perih 
rontok daun membelai 
api.

Malang, 2010


Pada Gadis Serupa Layla 
:dari matamu yang menyeret jejak-jejak romantikaku 
 
lihatlah! sekuntum bunga yang perna aku bawa padamu masih tetap beraroma. sabda jiwa bersinar menyala membentuk ghazal menghiasi taman surga. masihkah ada keraguan menyapa.  
o gadis serupa layla. aku kini menjadi qays. menantimu melukis bunga dalam kanvas hatiku. 
 
kau ingat kisah layla majnun. di sana layla dan qays berada. menggambar kisah kasih purnama. 
 
romatika langit manyapa. kegilaan akan kerinduan. dan menjelma menjadi puisi. 
tuhan pun ada dalam dirimu. o betapa indahnya. 
 
ah, kegilaan ini. kelopaknya mengembang semakin melebar membentuk jembatan menuju khayangan.  
 
mari, kemarilah. tak ada harpa menjadikan nada selaras. biar getar jantung menemui harmoninya. mari, menari bersamaku dalam lukisan hari nan syahdu. 
 
Malang, 2010


Perjamuan Senja
:khotbah zarathustra di atas bukit 
memberi kabar kematian tuhan dari hutan 
 
mengambil langkah jejak-jejak resah 
kalbu dirundung sepi menepiskan gadisnya 
tak ada syahwat terbaca hanya lingkar tanya 
 
kuda-kuda meringkik dalam gelombang masa 
membawa ujaran dari hikma sang petapa 
melengking di dinding-dinding telinga 
membasuh pada gugatan amarah  
mencari daya dari diri yang membara 
 
waktu pada ujungnya melawat 
menemui ajal atas kematian 
antara tuhan dan mahluknya 
merekat dekat dalam kalbu hati 
saling bicara dan merasa 
 
menelesap pada senja kuasa 
zarathustra mati jatuh pada jurangnya 
dan tuhan pun mati dalam khotbahnya 

Malang, 2010 
 
 
Waktu Membatu

aku menatap batu cadas 
di atas bukit rindu 
mengaca pada bongkahan ragu 
 
menanti masa 
aku membatu dalam gagu 
bukit mengalunkan nada-nada perdu 
lewat angin: bergesekan dedaunan biru 
dalam penjara waktu 
 
waktu bergeser 
saat rintih hujan 
menyeruh runtuh 
 
sadar beku tak menentu 
sadarkan diri pada waktu 
menanti: memecahkan hati batu 
 
Malang, Mei 2008


Waktu dan Buku

Bukankah ia berjalan tak berhenti 
Melintasi sejarah detik-detik pejalan kaki 
Sambil memunguti pertanyaan dan jawaban bekal mati 
 
Gelap bila tak ada kendali 
Terbawa begitu saja tanpa tersentuh hati 
 
Terang bila punya mimpi 
Membawa langkah berserah diri 
 
Aku yang mewaktu  
Sembunyi dalam buku 
Tak sempat bercumbu 
Sudah luka terburu-buru 
 
Bukankah itu dulu? 
Ketika kebebasan terpenjara dalam waktu beku 
 
Kenapa menjadi kini?  
Belum sempat aku kenali sudah mati 
 
Aku dalam buku 
Beku mewaktu 
Ketika detik terbunuh 
Sejarah berulang lalu 
 
Malang, Desember 2009


Tuhan Yang Aku Penggal Dan Naluri Insani Yang Mati

Aku pernah memenggal nama tuhan  
ketika tak kuat menjumpai tempat singgahnya 
 
Batu batu kerikil tajam melukai kakiku  
di jalan menapaki pertapaan. 
 
Kesunyian singgah dalam kesilaman masa 
keharuan menebar putik-putik kamboja  
lelah dengan mudah 
 
Bayangan-bayangan kematiannya 
bergelayut di dinding nalarku penuh angka 
 
Tak habis aku menginjaki nasib selalu patah 
warna bercahaya hilang tertutup kabut nestapa 
 
Penempaan akan diri  
kian berulang-ulang dalam kehangatan purnama 
ah, masih saja jauh kelanaku, sedang tubuhku penuh darah. 
 
Dengan segala daya aku berlari merangkul sepi  
di puncak perbukitan dimana tuhan pernah aku makamkan.  
 
Seketika mulutku berkhotbah 
mempertanyakan naluri insani juga mati di bukit putih 


Jogja-Gunung Kidul 2010 
 

Kun

dari pepohonan  
terselip cahaya  
berpendar-pendar 
membelah dedahanan  
dari muasal kata  
kehendak merabah. 
 
mencipta kegoyahan 
bila tak dapat peluk sinarnya  
 
hanya kekosongan  
akan dekati raga 
 
tak ada yang indah  
selain kemilaunya 
 
tertangkap batin  
menjelma kesempurnaan daya 
 
mengenali kulit ari dan getah  
melekat pada dada. 
 
satu, dua, nama terbaca  
dalam kenang muasal ada. 
 
api dan tanah bergelora  
mengikatnya dari kehampaan  
memasak menjadi kisah. 
 
tiupan angin 
belaian dedaunan  
bergesek-gesekan ranting  
patah jatuh menimpa wajah 
 
kun,  
mata terbuka 
terlihat nyata

roh dan jasad 
berkelana menelusup  
belantara kata-kata 
 
Malang, 2010


Mencari Jejak Terakhir
 
Pada garam yang tersebar di pantaimu aku memunguti satu-persatu. Tanahmu tak lagi bisa membekukan asin di tanganku. Membuat jejak kakiku tertinggal di perjalanan ke rumahmu. 

Masihkah kau ingat waktu itu. Aku menari malambai memanggil namamu. Dari kejauhan. Ketika kau hendak mengubur jejakku di pantaimu. 
 
Langit menghitam angin kencang. Meniupmu ke tepi laut yang tak asin lagi. Sebab, rasa asinnya. Telah aku telan semuanya. Tak ada lambaian tanganmu, karna kau sibuk mengubur jejakku dengan air laut yang kau ambil dari dasarnya. 
 
Sudahkah kau tahu, di mana letak jejak terakhirku?

Kau masih sibuk mencarinya. Bersamaan dengan petir, kau ambil  dan hujan menderu. Kau tertawa tak pernah kembali. Sehabis kau menuliskan pesan di pasir tentang jejak terakhirku.  
Aku mengunyah asin garam laut dari pantaimu. 
 
Malang, 2009 
 
 
Balada Putri Sido Maya 

takdir kasih adalah keniscayaan anak manusia 
pada pilihan  tambatkan diri  
merebahkan dalam buaian rindu 
laksana kekumbang dengan bebungaan 
cahaya memancar berkilauan: purnama cinta 
 
sewaktu asmara memancang kuat 
tergiringnya pada tarian duka 
apalah hendak dikata tak punya kuasa 
atas nama kehormatan, kandas harapannya

keris serta darah putih menyatuh:

penyesalan pemilik tahta 
bertahun tahun-tahun mengharap 
malaikat mendiami singgah di kampungnya 
wasiat sang alam padanya

untuk dicarinya 
 
(di tangan sang raja tubuh malaikat dibunuhnya) 
 
sang putri berlari mendiami bukit 
cahaya kemerahan telah padam 
tak kuat menghadap siksa mesrah yang terbelah 
atas kegelapan sang bapak membaca petanda  
hendak meminangkan pada pemilik tahta dan harta 
 
perbukitan menjuluk* tempat ia bersemedi 
bertahun-tahun menyiksa diri dalam sepi 
kekal dalam ayu perempuan suci 
menghantui kisah waktu
sejarah masa dulu 
 
Malang-Lamongan, 2009 

*gunung yang ada di daerah sedayu lawas
putri sido maya=putri sido ayu sekarang sebagai nama desa di lamongan pesisir yakni Sedayu Lawas. cerita ini beberapa versi.

Selasa, 20 Juli 2010

Aku Lupa

tuhan,
aku lupa menulis sajak cinta
untuk kekasihku

dia pun pergi tanpa kata                                     

laut dalam hatinya mengering
tak  kudengar debur ombak

embun di  jiwanya tak menetes
terkubur dendam luka padaku

sajak cintaku terbakar  dalam ke alpaan!

tuhan,
ingin kuputar waktu
sebab alpaku

kan kutulis lagi
sajak cinta untuknya
sebelum kepergian
kian jauh dariku

kuharap senyumnya memercikkan cinta lagi
agar kau dapat kulihat pada wajahnya

malang, 2008

Sabtu, 17 Juli 2010

Di Garis Wajahmu

:isti

Di garis wajahmu tertulis kisah hidupku. Berlarian tak berarah. Lintasi beribu pertanyaan. Penjarahkan aku akan harapan.

Dulu waktu pertama memandang. Aku melihat cahaya menghangatkan: aku sedang kesepian.

Tertinggal harapan rapuh atas kepergiaan. Ziara tak pernah pulang. Bahkan menengok kampung halaman. Kini telah menua. Hampir saja melemah.

Aku masih berdiri walau kenangan telah mati. Menyirami dengan ketulusan. Sedang kau berziarah ke rumah Tuhan. Atas namaNya kau bentengi perbedaan.

Hampiri mimpi terjagaku. Wajahmu tak pernah hilang. Kau telah hapus dengan kerudung besarmu. Menutup masa lalu. Tuhan ada padamu. Begitu ujarmu.

Berdiriku di lintasan tunggu.
Tak enggan mati.
Menatap hari.
Serupa belati.
:aku ingin membunuh Tuhan di garis wajahmu.

Malang, April 2009

Kangen

pandang hari
dengan peluk keyakinan

jaga tubuh
agar tetap pada kendali

tiada mematai
kecuali pemilik diri

ringkih memanjat tebing
menjulang tinggi

senja berlabuh
tiba pada puncak pasrah

menikmati daya air suci
hapus dahaga sehari tadi
sehabis bersemedi

kerinduan aku tanam
sejak di ambang pagi
kini berpulang kembali

Malang, Maret 2010

Jumat, 16 Juli 2010

Tangga Waktu

Masa Kanak
Adalah letak pondasi  
cermin di mana kini

Masa Muda
Adalah permenungan hati 
laku menambatkan cita-cinta

Masa Tua
Adalah petik bunga-bunga
tertanam dalam tangga masa

Malang, April 2010

Kamis, 15 Juli 2010

Bulan Hujan

I
menanti rindu
pecah pada basah

Ia menyapa, saat senja berangsur sirna.
Meniupkan nafas pada rerumputan resah.
Sejenak saja, aku gembira.

Hirup rindu sesaji gersang bergemuru

II
pecah rindu
amarah memburuh

Atap kamarku marah padaku.
Melalui celah genting  pecah.
Basah sudah seluruh jiwa.

Hirup riak amarah basah bergemuru.

Malang, November 2009

Mencari Jejak Terakhir

Pada garam yang tersebar di pantaimu aku memunguti satu-persatu. Tanahmu tak lagi bisa membekukan asin di tanganku. Membuat jejak kakiku tertinggal di perjalanan ke rumahmu. 

Masihkah kau ingat waktu itu. Aku menari malambai memanggil namamu. Dari kejauhan. Ketika kau hendak mengubur jejakku di pantaimu.

Langit menghitam angin kencang. Meniupmu ke tepi laut yang tak asin lagi. Sebab, rasa asinnya. Telah aku telan semuanya. Tak ada lambaian tanganmu, karna kau sibuk mengubur jejakku dengan air laut yang kau ambil dari dasarnya.

Sudahkah kau tahu, di mana letak jejak terakhirku?

Kau masih sibuk mencarinya. Bersamaan dengan petir, kau ambil  dan hujan menderu. Kau tertawa tak pernah kembali. Sehabis kau menuliskan pesan di pasir tentang jejak terakhirku. 

Aku mengunyah asin garam laut dari pantaimu.

Malang, 2009

mitos jalanan

perjalanan panjang
melewati perbukitan 
terlempar ke lembah
lewati padang pasir.
kehausan.

cahaya kebiru-biruan
berlarian
menggiring anak-anak dungu perkotaan.
mejadi saksi kemlaratan
ditiupkan jilatan naga merah
menyala-nyala.

iblis berpesta pora
bersetubuh di ruang mewah
dengan para naga.

anak-anak berhujan-hujan
menyiram api sisa naga raja
menyemburkan darah pada
dada di jalanan.

apa nyata atau khayalan
begitulah adanya.
perjalanan:
tapak-tapak kaki
tanda untuk dimengerti.

malang, desember 2009

Rabu, 14 Juli 2010

Puisi Cintaku Mati

bertahun-tahun aku menunggumu di bukit sepi
ditemani gelisah para pujangga dengan puisi-puisi
mabuk angur do’a cinta kutenggak sendiri

prosesi hidup memang lain
tak seperti apa yang kita fikirkan, mungkin
(jalan Tuhan pun tak terhitung jumlahnya)

di persimpangan jalan, hendak kuambil air minum dari sumur abadi
jumpai kau penuh keanggunan hendak berjalan ke arahku

seketika itu kau tertahan
berjuta tanya akan ku
sedang dimabuk cinta

kau mendekat
lembut tanganmu
hendak menyentuh keningku
tertahan dalam jalan anganmu
tak mampu temukan di jalan fikirku

(untuk apa kau datang kemari kalau kau kembali lagi)

persimpangan jalan menjadi catatan sejarah cintaku yang mati dibuatnya
hati telah merekat melebur menjadi partikel-partikel kecil lalu mengumpal menjadi satu
tertahan di tengorokan hendak melangkah pada jalan akal

aku buntu dibuatnya

kemabukanku menjadi sia-sia
sebab tak sampai melayang-layang
menggapai kitab keabadian sejarah cinta

jalan lain kau kehendaki
kubunuh waktu di bukit ini
bersama pujangga
dengan puisi cintannya

Zaratustra memanggil dan memberikan kado padaku
berlahan lembaran-lembaran puisi cintaku berguguran
terbang menembus celah-celah bebatuan
hinggap di pekuburan lalu mati di hutan

Malang, Desember 2008

Kenang Semanggi

luka
darah
tubuh rakyat
berlawan baja.

mati sudah
tak ada nama.

kenang
tinggal kenangan
sejarah.

Semanggi
tak terbaca
kian lama.

dua belas tahun
menyimpan misteri

duh,
pak tentara.
siapa yang bersalah.

wakil rakyat
tak punya tata krama.

para mentri cari muka.

pak presiden
sibuk meletakkan bibir termanisnya.

oh,
Republik darah
di mana rasa kemanusiaan singgah

Malang, 12 Mei 2010

kun

dari pepohonan
terselip cahaya
berpendar-pendar
membelah dedahanan
dari muasal kata
kehendak merabah.

mencipta kegoyahan
bila tak dapat peluk sinarnya

hanya kekosongan
akan dekati raga

tak ada yang indah
selain kemilaunya

tertangkap batin
menjelma kesempurnaan daya

mengenali kulit ari dan getah
melekat pada dada.

satu, dua, nama terbaca
dalam kenang muasal ada.

api dan tanah bergelora
mengikatnya dari kehampaan
memasak menjadi kisah.

tiupan angin
belaian dedaunan
bergesek-gesekan ranting
patah jatuh menimpa wajah

kun,
mata terbuka
terlihat nyata
roh dan jasad
berkelana menelusup
belantara kata-kata

malang, 2010

pada gadis serupa layla

:dari matamu yang menyeret jejak-jejak romantikaku

lihatlah! sekuntum bunga yang perna aku bawa padamu masih tetap beraroma. sabda jiwa bersinar menyala membentuk ghazal menghiasi taman surga. masihkah ada keraguan menyapa.

o gadis serupa layla. aku kini menjadi qays. menantimu melukis bunga dalam kanvas hatiku.

kau ingat kisah layla majnun. di sana layla dan qays berada. menggambar kisah kasih purnama.

romatika langit manyapa. kegilaan akan kerinduan. dan menjelma menjadi puisi.
tuhan pun ada dalam dirimu. o betapa indahnya.

ah, kegilaan ini. kelopaknya mengembang semakin melebar membentuk jembatan menuju khayangan.

mari, kemarilah. tak ada harpa menjadikan nada selaras. biar getar jantung menemui harmoninya. mari, menari bersamaku dalam lukisan hari nan syahdu.

malang, juni 2010

Puisiku Hendak Kemana

:ia yang melahirkan aku

Entah kemana ia berlari.
Sedang aku masih di sini

Pernah aku menghampiri
Dengan suci bahasa Ilahi
Menderetkan kata hati
untuk menundukkan diri

Tetap saja ia tak mau terkunci

Sekali bersua kembali
Ia menangisi melati
Tangkainya patah lagi
Tak ada harum mewangi

Sebab itu ia tak mau mendekam dalam diri

Sempat juga ia sembunyi
Dalam perut tak berisi
Beryanyi-nyanyi tantang negeri
Dan memaki-maki
Mengharap keadilan kembali

Karena itu ia tak mau bungkam sendiri

Kadang juga menelusup di alam sepi
Menjerat suasana sunyi
Mengasingkan diri dengan bersemedi
Dalam pekat malam hari

Dengan itu ia tak mau dicari

Kemana puisiku pergi
Ku harap ia kembali
Mematuki tubuh ini

Malang, Juni 2010

terbakar waktu

ada muasal kata
lewat dedaunan layu
diterpah kehangantan
saling gesek bergesekan
memainkan nyanyian: kekeringan
pepohonan sedang meranggas kesepian.

waktu melahan berkunjung
pada arah matahari sunyi
beri kabar betah untuk tinggal
di bingkai: tanah retak
rumput kering
daun jatuh
buah jagung mengembang.

adakah yang paling sepi
saat waktu terbakar
menyangsikan musim hujan
terburu-buru pergi

pohon jati berdiri
menahan tubuh perih
rontok daun membelai
api.

malang, juni 2010

kuselipkan nafasku

kuselipkan nafasku
dalam celana dalamMu.
menghirup harum kelaminMu

ada pucuk bunga surga menebar aroma
mendekam aku di sela selangkanganMu
tak harap beranjak hingga nadi tak berdenyut

malang, juli 2010